Penentuan Juara: Portugal vs Perancis

Besok malam, bertempat di stadion Stade de France, Paris, Piala Eropa 2016 akan mencapai konklusi dengan Portugal dipastikan akan menantang tim tuan rumah, Perancis. Tanpa bermaksud mengecilkan Portugal, Perancis jelas sangat diunggulkan mengingat mereka berstatus sebagai host gelaran Euro kali ini, ditambah materi pemain kelas satu di tiap lini dan juga performa meroreka yang meyakinkan sejak awal turnamen bergulir. Di sisi lain, Portugal banyak dicibir oleh publik sepakbola dunia tampil sangat beruntung hingga bisa mencapai final. Lawan-lawan yang dihadapi oleh Portugal dalam perjalanannya menuju final tidak bisa dikategorikan sebagai tim kuat, sudah begitu yang membuat publik geleng kepala adalah ketidakmampuan tim ini menang di waktu normal 90 menit (sampai babak perempat final)! Barulah di semifinal Seleccao das Aquinas bisa mengalahkan Wales 2-0 lewat kegemilangan bintangnya, Cristiano Ronaldo tanpa melalui babak tambahan waktu.

Lalu, apakah Perancis akan tampil sebagai pemenang pada pertandingan esok? Belum tentu!

Ingat, ini sepakbola! Tidak ada yang pasti dalam permainan ini. Kita sudah melihat betapa Belgia yang digadang-gadang mempunyai generasi emas ternyata dikalahkan oleh Wales yang merupakan debutan. Atau Islandia, negara yang tidak mempunyai kultur sepakbola kuat dan hanya berpopulasi 330 ribu, jauh lebih kecil dibandingkan Bekasi, bisa mencapai perempatfinal dan dalam perjalanannya memulangkan Inggris yang merupakan salah satu unggulan juara. Banyak faktor yang bisa menentukan hasil pertandingan besok; dukungan supporter, formasi dan taktik yang digunakan kedua tim, kecerdikan pelatih melihat situasi atau mental pemain menghadapi pertandingan sebesar final Euro.

 

Head to Head

Selama turnamen berlangsung, Fernando Santos selalu menurunkan formasi 4-4-2 dan tentu tidak ada alasan untuknya mengubah formasi untuk pertandingan besok. Duet Cristiano Ronaldo dan Luis Nani sebagai tandem striker awalnya sempat mengernyitkan dahi publik sebab dua pemain ini lebih dikenal sebagai sayap-sayap lincah. Namun torehan 3 gol dari masing-masing tentu menjadi jawaban atas keraguan tersebut.

formation
Prakiraan formasi Portugal vs Perancis. Sumber gambar: whoscored.com

 

Di lini tengah, dua figure kunci andalan Portugal adalah Renato Sanches dan William Carvalho, yang absen pada semifinal akibat hukuman akumulasi kartu. Renato Sanches, di usianya yang baru 18 tahun, akan menjadi motor serangan Portugal. Pemuda yang digadang-gadang sebagai the next big thing ini terbukti sejauh ini mampu mengemban tugas tersebut dengan kontribusi 1 gol dan rataan passing sukses 85,5% serta dribel sukses tiap 32,8 menit. Sementara itu, William Carvalho akan kembali diandalkan sebagai jangkar lini tengah. Tugasnya sederhana saja, memastikan para gelandang Perancis tak bisa leluasa mengembangkan permainan dan menjadi filter pertama ketika Portugal terkena serangan. Dengan rataan tackle 2.8 per laga dan intercept 1.8 per laga tentu peranannya akan lebih krusial lagi di  pertandingan final besok.

Di lini belakang Jose Fonte dan Pepe akan menjadi duet di jantung pertahanan Portugal. Satu nama yang sangat menarik bagi saya selain kedua centre back tersebut adalah Cedric Soares, fullback kanan Portugal. Dengan rataan tackle 3,3 per laga dan intercept 4 per laga, Cedric mampu tampil konsisten dan kokoh di sisi kanan pertahanan Portugal. Ketika menghadapi Wales di semifinal, beberapa kali dia berduel dengan Gareth Bale dan terlihat mampu merepotkan sang bintang Real Madrid, belum lagi ditambah kemampuannya yang bisa membantu serangan dari sayap kanan.

Di lain sisi, Perancis tampaknya akan tampil dengan formasi andalannya 4-2-3-1. Di awal turnamen, sebenarnya Didier Deschamps menggunakan formasi 4-3-3 dengan menempatkan Payet dan Griezman sebagai penyerang sayap, namun formasi ini kurang bisa mengeluarkan potensi pemain-pemain Perancis, terlebih Griezman. Barulah setelah Deschamps mengganti formasi ke 4-2-3-1 secara brilian serangan Perancis tampil lebih berbahaya dan meyakinkan.

Olivier Giroud tetap akan tampil sebagai ujung tombak Perancis dengan sokongan tiga gelandang serang di belakangnya. Sejauh ini, Giroud yang kerap kali dikritik oleh publik sepakbola Perancis akibat dianggap kurang profilic layaknya striker Perancis Thierry Henry atau Karim Benzema, mampu tampil baik dengan catatan tiga gol  dan tentu dua assist – salah satunya assist cantik untuk gol Griezman di laga melawan Islandia.

Beralih ke tengah, Pogba dan Matuidi akan menjadi double pivot yang bertugas menjaga keseimbangan dan dominasi lini tengah Perancis. Paul Pogba, akan kembali menjalani peran sebagai pengatur serangan dari posisi yang agak lebih dalam dibanding posisi yang biasa dia mainkan di klubnya, Juventus. Namun, itu tak mengurangi sinar kebintangan Pogba dengan rataan passing sukses yang menyentuh angka 86,7%, keypass 1,8 per laga dan dribel 2,2 per laga. Kinerja defensif Pogba juga sangat baik dengan tackle 2,2 per laga dan intercept 1,3 per laga. Ini menunjukkan Pogba adalah gelandang komplit yang membuat lini tengah Portugal wajib ekstra waspada terhadap gelandang satu ini. Blaise Matuidi sebagai tandem Pogba akan lebih berperan sebagai gelandang box-to-box yang diberi keleluasaan untuk membantu penyerangan dan bertahan. Ini menjadikan duet gelandang ini sangat sempurna. Jangan lupakan juga Perancis masih punya Payet dan Kante sebagai faktor lain untuk menambah variasi lini tengah.

Di lini belakang sederet nama berpengalaman sudah pasti akan jadi andalan Perancis. Namun, yang menarik besok akan ada satu nama yang dinanti-nantikan penampilannya oleh para pecinta klub FC Barcelona, yaitu Samuel Umtiti. Nama terakhir ini baru saja dipastikan akan memperkuat El Barca mulai musim depan. Penampilan terbaiknya sudah tersaji tatkala Perancis mengalahkan Jerman. Pemain muda ini berhasil mementahkan semua serangan Die Mannschaft dengan ketenangan dan kemampuannya membaca permainan. Jikapun ada kelemahan yang masih terlihat mungkin dalam hal antisipasi bola udara. Di segi ini dia akan diuji langsung oleh Cristiano yang dikenal handal dalam sundulan sebagaimana ditunjukkannya ketika mencetak gol pada laga melawan Wales.

Faktor Griezmann

Satu nama yang wajib jadi sorotan pada pertandingan besok tidak lain dan tidak bukan adalah Antoine Griezmann. Tepat sebelum turnamen dimulai, nama Pogba digadang-gadang sebagai protagonis utama tim nasional Perancis. Setelah dua pertandingan dijalani, kemudian muncul nama Dimitri Payet yang digaungkan sebagai pemain yang tampil paling menonjol. Namun pada pertandingan-pertandingan berikutnya publik Perancis dan dunia seakan terhipnotis oleh kehebatan seorang Griezmann. Setelah posisinya digeser dari penyerang sayap ke penyerang lubang, tepat di belakang Olivier Giroud, Grizou – julukan barunya merujuk pada sang legenda Zinedine Zidane – tampil sangat fantastis menjadi senjata utama serangan Perancis. Kemampuannya mencari ruang, mendribel melewati lawan dan finishing yang akurat menjadi keuntungan tersendiri bagi Perancis.

griezman
Statistik Antoine Griezmann di Euro 2016. Sumber gambar: whoscored.com

 

Sebagai seorang striker, kemampuan Griezmann terbilang sangat komplit. Mencetak gol melalui sundulan, tendangan penalti dan bahkan tendangan chip ala Lionel Messi sudah didemonstrasikannya di turnamen kali ini. Total enam gol sudah dicetaknya dalam lima pertandingan yang sudah dijalani Perancis, menjadikannya top skorer sementara, belum lagi ditambah dua buah assist sudah dikemasnya. Saat ini, namanya sudah mulai disejajarkan diantara para legenda Perancis seperti Michael Platini dan Zidane. Tinggal satu pertandingan lagi, dan apabila Perancis berhasil dibawanya menjadi juara maka namanya akan abadi tercatat sebagai legenda yang memimpin Perancis memenangi Euro untuk ketiga kalinya.

Griezmann sudah pernah menelan pil pahit musim ini tatkala klub nya dikalahkan oleh Real Madrid dengan Cristiano di final Liga Champions. Lucunya, final kali ini dia akan kembali berhadapan dengan Cristiano yang berseragam Portugal. Tentu akan ada motivasi tambahan baginya untuk merebut satu gelar di musim ini yang akan bisa digunakan sebagai tiket munuju perebutan Ballon d’Or di akhir tahun. Tugas berat menanti pertahanan Portugal untuk bisa menghentikan dirinya yang sedang on fire. Jika tidak ingin kalah, maka Portugal tidak boleh memberikan space untuk Griezmann menari-nari dengan bola. Simak apa kata Manuel Neuer tentang Griezmann, ‘Dia sangat bagus dalam duel satu lawan satu’. Apabila Portugal lengah maka siap-siap kita akan melihat tarian selebrasi Griezmann.

Penutup

Perkiraan saya, Perancis akan mengambil alih inisiatif serangan dan akan sebisa mungkin mencetak gol cepat sementara Portugal akan bertahan dan mengintip peluang melancarkan serangan balik memanfaatkan kecepatan Sanches, Nani dan Cristiano.

Untuk skor saya memprediksikan Perancis akan menang 2-1 atas Portugal. Namun, tidak tertutup kemungkinan laga berakhir imbang sampai 120 menit dan diakhiri adu tendangan penalti. Bagaimanapun Perancis tetap diunggulkan besok, kecuali nasib berkata lain.

 

Salam sepakbola,

@nikopurba

Saatnya Sepakbola Kita Berbenah

“Bung, kira-kira Indonesia bisa menang ngga malam ini?”, adik saya bertanya.

“Ngga mungkin, bung. Indonesia ngga mungkin menang, beda levelnya terlalu jauh”, jawabku.

“Ah, pasti masih ada kemungkinan menang, lihat saja nanti”, balasnya, dengan yakin.

Begitulah sepenggal percapakan antara saya dengan adik saya beberapa waktu yang lalu terkait pertandingan tim bayangan Indonesia (yang dinamai Indonesia Dream Team) melawan Arsenal. Tidak hanya sekali percakapan tersebut, tapi sampai diulang tiga kali, termasuk sebelum melawan Liverpool dan Chelsea beberapa waktu kemudian. Apa mau dikata, timnas kalah, jangankan memberi perlawanan, timnas kita terlihat seperti pemain yang baru kemarin belajar main bola. Perbedaan kemampuannya terlalu jauh, baik dari segi skill individu, stamina maupun kemampuan taktikal.

Salah besar kalau kita menyalahkan para pemain yang turun di lapangan untuk kekalahan telak yang diterima tersebut. Jangan lupa, pemain-pemain yang diturunkan di ketiga pertandingan tersebut bisa dikatakan sebagai pemain-pemain terbaik di liga sepakbola tanah air. Kalaupun perbedaan kemampuan terlihat begitu jauh, itu memang murni dikarenakan pemain lawan memang terlalu tangguh dan terbiasa berkompetisi di level yang jauh lebih tinggi dan lebih ketat. Di sisi lain, pemain yang dipanggil untuk melawan tim-tim tersebut baru berlatih bersama dalam waktu yang sangat sedikit.

Sumber: www.supersoccer.co.id
Sumber: http://www.supersoccer.co.id

Alasan-alasan seperti menimba ilmu, menambah pengalaman dan memetik pelajaran dari tim-tim top tersebut terdengar sangat klise. Dimana ada ceritanya, satu tim main di satu dua pertandingan dan tiba-tiba bisa menjadi tim yang jauh lebih baik? Tidak ada! Progres atau perkembangan hanya bisa didapat melalui persiapan yang matang dan latihan keras secara terus-menerus. Jadi, memang harus kita akui pertandingan-pertandingan kemarin tidak lebih hanya sekadar dari hiburan dan pemuas dahaga bagi para fans yang timnya datang berkunjung.

Sebenarnya apa yang salah dari sepakbola kita?

Ini pertanyaan yang klasik. Sangat klasik. Ditambah lagi dengan satu pertanyaan pamungkas, “Apa ngga ada 11 orang dari 200 juta penduduk Indonesia yang bisa bersaing di level sepakbola dunia?”. Jika pertanyaan ini ditanyakan pada saya, maka saya akan menjawab “pasti ada” untuk pertanyaan kedua. Dan untuk pertanyaan pertama, sekali lagi saya harus tegaskan jawaban saya, kesalahan bukan terletak pada pemain (saja), kesalahan yang terjadi sudah sangat sistemik, mulai dari pembinaan pemain, perencanaan sepakbola dan federasi sepakbolanya sendiri.

Saya ingat sekali bahwa negeri ini mempunyai bakat-bakat muda yang sangat berlimpah. Pada masa saya SMP dan masih sering baca tabloid olahraga, saya banyak membaca tim muda Indonesia banyak menuai prestasi. Tahun 2005, Indonesia mampu tampil sangat baik di kompetisi dunia usia di bawah 12 tahun, Danone Cup. Saya bahkan ingat waktu itu Indonesia meraih gelar best attack team dengan strikernya, Irvin Museng menjadi topskorer. Cerita bahkan berlanjut dengan Irvin dipanggil untuk berlatih dengan tim junior Ajax Amsterdam. Di tahun berikutnya, tim muda kita bahkan sanggup merengkuh peringkat 4 dari 32 negara peserta! Bahkan mengungguli tim-tim yang kuat prestasi sepakbolanya seperti Italia, Belanda, Jerman dll. Belum lagi beberapa waktu berikutnya ada tim muda yang terdiri dari pemain-pemain berbakat, termasuk Syamsir Alam, yang dikirim berlatih ke Uruguay. Jadi jelaslah, negeri ini tidak kekurangan talenta berbakat.

Contoh-contoh sebelumnya sudah sangat jelas memperlihatkan bahwa untuk kelompok usia anak-anak sampai remaja, talenta-talenta dari Indonesia masih sanggup mengimbangi (jika tidak mau jumawa menyebut ‘unggul’) dari negara-negara lain di dunia ini. Namun, ketika beranjak dewasa kemudian pemain-pemain di turnamen tersebut dipertandingkan lagi, saya berani jamin tim dari Indonesia tidak akan jauh-jauh dari posisi juru kunci. Sekali lagi, yang salah bukan para pemain. Kurangnya pembinaan yang bagus merupakan alasan utama dari jebloknya prestasi.

Saya sangat sepakat dengan poin-poin yang dipaparkan bung Zen Rs dalam tulisan berjudul Agar Sepakbola Indonesia Tak Mati di Lumbung Sendiri. Untuk memperbaiki sepakbola yang sudah terlanjur berantakan di negeri ini, kita butuh federasi yang kuat. Jangan lagi isi berita olahraga seputar perkelahian antar oknum anggota federasi, tapi sudah seharusnya tentang rencana-rencana dan langkah konkret untuk memajukan sepakbola, baik dari segi olahraga maupun bisnis.

Kita butuh orang-orang yang mengerti dan paham mengelola sepakbola. Langkah untuk mengirimkan jajaran pelatih muda, direktur teknis, fisioterapis dan nutrisionis untuk magang ke klub-klub top tersebut sepertinya terdengar lebih berguna daripada sekadar pertandingan persahabatan. Bayangkan apabila mereka yang dikirimkan ini nantinya dapat belajar banyak di Eropa sana kemudian kembali ke Indonesia dan membuat suatu sistem yang baik untuk sepakbola negeri ini. Pasti akan membuahkan hasil, minimal ada pembaharuan dalam pengelolaan sepakbola kita. Kenapa tidak pemain saja yang dikirim berlatih ke luar? Ini namanya mengulang kesalahan yang sama. Kita sudah pernah melakukan program serupa, yang pertama di tahun 90an yang dikenal dengan nama program primavera ke Italia, disusul tahun 2007 tim SAD Indonesia ke Uruguay. Hasilnya nihil.

Sudah saatnya sepakbola kita berbenah. Jika tidak, mungkin 10 atau bahkan 20 tahun lagi kita hanya dikenal sebagai negara dengan fans sepakbola yang fanatik. Negara yang menjadi tujuan klub-klub top eropa meraup uang banyak, tanpa pernah dikenang prestasi negaranya di kancah persepakbolaan dunia.

npp.

Sepakbola dan Momentum

” … dan ketika momentum itu sudah ada di depan mata, sayangnya sekali lagi kita kalah.”

Sepakbola adalah soal momentum.

Begitu kira-kira slogan yang diutarakan salah satu program berita olahraga di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Untuk kali ini saya harus sepakat dengan slogan tersebut.

Sudah cukup banyak contoh yang bisa mendukung mengenai teori tersebut. Salah satu yang paling terkenal mungkin adalah pertandingan final UEFA Champions League 2005 yang mempertemukan Liverpool dengan AC Milan. Di babak I Milan unggul 3-0 dan ketika peluit tanda babak pertama berakhir dibunyikan pemenang pertandingan seperti telah ditetapkan yaitu si tim asal Italia. Memasuki babak kedua Liverpool ternyata belum menyerah, mereka menggempur habis-habisan pertahanan “si merah hitam”. Hasilnya skipper mereka Steven Gerrard mencetak gol pertama untuk klub Merseyside. Liverpool mendapat momentum untuk melakukan comeback dan hasilnya seperti kita ketahui sampai saat ini, Liverpool menang secara dramatis lewat adu penalti.

Contoh berikutnya adalah tim nasional Italia. Musim panas menjelang putaran final Piala Dunia di Jerman, Serie A diguncang skandal pengaturan wasit yang sampai sekarang kita kenal dengan nama calciopoli. Dunia persepakbolaan sempat gempar waktu itu dan Italia menjadi sorotan utama. Menjelang dimulainya turnamen Italia diragukan bisa melangkah jauh atau sekadar bermain bagus, sebabnya persiapan tim sangat terganggu oleh kasus tersebut. Namun, hasilnya di luar dugaan, seakan mendapat momentum Italia justru tampil hebat untuk membuktikan pada dunia bahwa persepakbolaan mereka belum habis. Mereka keluar sebagai juara di akhir turnamen.

Hampir 7 tahun kemudian, Indonesia juga berpeluang mencatat sebuah kegemilangan memanfaatkna momentum tersendiri. Indonesia dijadwalkan menjamu Arab Saudi tanggal 24 Maret dalam lanjutan pra Piala Asia 2015. Pertandingan kali ini memang istimewa, sebabnya adalah perseteruan di tubuh PSSI sudah terselesaikan. Timnas diperkuat pemain-pemain terbaik, dilatih oleh dua pelatih yang sangat berpengalaman dan bermain didepan 75 ribu pendukung fanatik. Semua kondisi seperti sudah memang disiapkan untuk Indonesia bisa meraih kemenangan perdana atas Arab Saudi. Dan ketika momentum itu sudah ada di depan mata, sayangnya sekali lagi kita kalah.

Pemain dan pelatih jelas tidak bisa disalahkan, mereka sudah berbuat semaksimal mungkin yang mereka bisa. Kita juga wajib mengakui Arab Saudi memang bermain lebih baik dan memang kualitas tekniknya di atas para pemain timnas. Peringkat FIFA juga memang sudah menggambarkan perbedaan kekuatan antara kedua tim, Indonesia di peringkat 166 sedangkan Arab Saudi di peringkat 106. Diperparah lagi persiapan timnas kurang dari seminggu sebelum pertandingan.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari pertandingan kemarin. Kita diajarkan bahwa untuk mencapai kesuksesan ada proses yang harus dilewati. Tidak mungkin hanya dengan mengumpulkan pemain-pemain terbaik lantas kita bisa langsung menang mudah dari tim yang di atas kertas lebih diunggulkan. Jika demikian maka kita tidak usah menunggu lama untuk sekadar memenangi piala AFF bukan? Sekali lagi semuanya butuh proses, berikan tim nasional waktu untuk bisa mematangkan kerjasama dan taktik lalu adakan banyak ujicoba internasional. Beberapa bulan lagi ada beberapa tim top eropa yang berencana mengunjungi Indonesia – Arsenal, Liverpool, Chelsea – jika perlu tandingkan saja timnas melawan tim-tim tersebut. Tujuannya bukan untuk kemenangan tetapi lebih untuk mendapatkan pembelajaran untuk proses mematangkan timnas.

Yang terakhir tentu saja dari organisasi PSSI harus mendukung tim nasional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa PSSI kinerjanya sangat tidak profesional dalam mengurusi timnas. Jika ini tidak berubah maka sampai kapanpun timnas tidak akan bisa berjaya. Mau sampai kapan lagi rakyat Indonesia dibuat kecewa oleh induk olahraga yang satu ini?

Saya dan mungkin jutaan penduduk Indonesia lainnya sepenuhnya percaya bahwa akan ada momentum lain yang menunggu Indonesia di depan sana. Menunggu Sang Garuda mengepakkan sayap terbang tinggi menuju prestasi. Masalahnya sampai kapan kita mau terus melewatkan momentum tersebut?

Sekian.

===================================================

Penulis adalah pengamat sepakbola amatir, beredar di dunia twitter dengan nama akun @nikopurba