Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka!

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-68, untuk pertama kalinya diadakan berbagai macam perlombaan di komplek rumah saya. Tarik tambang, balap karung dan panjat pinang adalah beberapa jenis perlombaan yang diadakan. Siapapun boleh ikut jadi peserta, yang penting ramai. Lagipula ini untuk pertama kalinya.

Berjuang untuk menang
Berjuang untuk menang tarik tambang kategori anak-anak. Mukanya serius sekali ya..hmm..
Kebahagiaan para ibu-ibu yang berhasil menang pertandingan hula hoop. Yeaah!
Kebahagiaan para ibu-ibu yang berhasil menang pertandingan hula hoop. Yeaah!
Balap karung. Menjelang garis finish disambut sorakan penonton, bagaikan juara di motoGP ya hehe
Balap karung. Menjelang garis finish disambut sorakan penonton, bagaikan juara di motoGP ya hehe
Perlombaan paling ditunggu-tunggu. Antusiasme penonton sudah sampai di ubun-ubun.
Perlombaan paling ditunggu-tunggu. Antusiasme penonton sudah sampai di ubun-ubun.
Tim pemuda lorong dua berjuang sekuat tenaga menggapai bendera di puncak. Mirip perjuangan para pahlawan dulu ya dalam merebut kemerdekaan.
Tim pemuda lorong dua berjuang sekuat tenaga menggapai bendera di puncak. Mirip perjuangan para pahlawan dulu ya dalam merebut kemerdekaan.
Momen kemenangan. Usaha sekuat tenaga dan kerjasama jadi kunci kemenangan!
Momen kemenangan. Usaha sekuat tenaga dan kerjasama jadi kunci kemenangan!

Pertandingan selesai.

Semoga ada nilai-nilai yang bisa diambil dari perlombaan-perlombaan di atas, sehingga yang diingat bukan cuma keseruan dalam perlombaan. Contoh paling sederhana, usaha teman-teman yang berjuang di lomba panjat pinang hendaknya kita lihat mencerminkan perjuangan para pahlawan pejuang kemerdekaan di jaman dahulu yang pastinya jauh lebih keras, apalagi nyawa jadi taruhannya dan kemerdekaan negara jadi hadiahnya. Karena itu kita wajib selalu mengingat dan menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang dahulu.

Hendaknya perayaan kemerdekaan ini juga kita jadikan momen untuk mengingat kembali tujuan dari kemerdekaan itu sendiri sebagaimana tercantum di pembukaan UUD 1945:

  • Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  • Memajukan kesejahteraan umum
  • Mencerdaskan kehidupan bangsa
  • Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Semoga ini bisa jadi refleksi kita bersama di peringatan kemerdekaan RI yang ke-68. Maju terus Indonesia! Merdeka!

Salam kemerdekaan, meskipun telat sehari.

Buat Paspor Itu Mudah

Siap bertualang ke negeri seberang.

For the sake of Suikoden, awalnya saya juga ngga tahu buat apa saya bikin paspor.

Alkisah di suatu sore yang tenang, saya sedang duduk di halaman belakang rumah saya sambil baca-baca koran dan tiba-tiba mama saya datang menghampiri. Sambil membuat teh, beliau kemudian berkata, “Niko, kayaknya kau harus bikin paspor, penting itu. Mama sama Bapak udah bikin kemarin”. Sedetik kemudian, yang terlintas di pikiran saya adalah ruwetnya tata cara pembuatan paspor. Seakan tahu apa yang ada di pikiran saya, mama saya langsung menyambar, “Gampang kok, tinggal datang isi formulir, bayar, foto, wawancara, udah jadi”. Hebat, saya sedang berbicara dengan telepath tampaknya.

My mom’s word is my command.

Jadi, keesokan harinya saya pun pergi ke kantor imigrasi yang terletak di pinggir kota Siantar. When I say ‘pinggir’, it is really ‘pinggir’. Ajaib, tanpa banyak ba-bi-bu dan antri sana sini seperti yang dikisahkan teman-teman saya yang membuat paspor di Bandung, saya bisa langsung ambil formulir. Kesimpulan yang saya bisa ambil, orang Siantar yang mau ke luar negeri jauh lebih sedikit dari yang ada di Bandung.

Tidak banyak kejadian yang sebenarnya bisa diceritakan, tata cara pembuatan paspor persis seperti yang di-spoiler oleh mama saya. Hal yang perlu diperhatikan sebaiknya lengkapi persyaratan sebelum datang ke kantor imigrasi. Fotokopi KTP, Kartu keluarga dan ijazah/akte kelahiran harus lengkap dibawa. Untuk dokumen terakhir kemarin saya tidak membawanya karena saya sudah cukup percaya diri KTP dan Kartu Keluarga sudah menunjukkan identitas saya. Ayolah, saya bukan teroris. Tapi ternyata tidak, petugas kantor imigrasi menolak untuk melayani saya. Saya sudah coba bujuk untuk menyertakan fotokopi ijazah belakangan, tapi tetap ditolak. Untuk kali ini saya harus akui, petugas kantor imigrasinya sangat berintegritas dan tegas.

Saya pulang, mengambil ijazah terakhir saya, ke fotokopian dan setengah jam kemudian muncul lagi di kantor imigrasi. Si petugas tadi kembali menjadi orang yang menyambut saya di loket pelayanan, kemudian saya menyerahkan fotokopi ijazah saya. Dia memperhatikan fotokopi ijazah saya sebentar, beberapa saat kemudian memanggil beberapa temannya dan menunjukkan ijazah saya, mereka tampak antusias. Dari pembicaraan mereka tampaknya mereka baru kali ini melihat ijazah yang ada tulisan ‘Institut Teknologi Bandung’ di bagian atasnya. Otomatis, saya agak sedikit bangga tapi tetap membumi. Setelah itu saya pun dilayani dengan sangat baik dalam pembuatan paspor.

Tidak butuh waktu lama, tiga hari kemudian paspor saya jadi. Saya datang, melapor ke loket dan tinggal ambil paspor. Sebelum saya pergi, si Ibu petugas sempat bertanya-tanya beberapa hal. ‘Kapan kamu berangkat?”, tanya si Ibu. Saya agak bingung. Kemudian saya berusaha menguasai keadaan dan mengerti apa yang ditanyakan Ibu tersebut. “Oh, ke luar negeri nya ya bu?”, balas saya. “Masih lama bu, saya sendiri belum tau kapan”, jawab saya lagi. “Mau ke Eropa, kan?”, tanyanya lagi memastikan. “Iya, Bu”, balas saya singkat. “Oke, Niko, semoga sukses ya”, katanya menutup pembicaraan dengan senyum tulus. Kemudian kami pun berjabat tangan dan saya berlalu meninggalkan kantor imigrasi. Tak lupa saya memasukkan tanda Sangat Puas ke dalam kotak masukan di depan kantornya.

Ketika sesi wawancara dan ditanyakan alasan pembuatan paspor, saya juga ngga tahu kenapa bisa menjawab mau melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Padahal ada seratus alasan bagus lain yang bisa disebutkan, contohnya mau ke Brazil tahun depan nonton Piala Dunia. Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu.

Kata orang sih, ucapan itu adalah doa. Semoga saja.

Paspor RI asli
Paspor RI asli

Sepakbola dan Momentum

” … dan ketika momentum itu sudah ada di depan mata, sayangnya sekali lagi kita kalah.”

Sepakbola adalah soal momentum.

Begitu kira-kira slogan yang diutarakan salah satu program berita olahraga di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Untuk kali ini saya harus sepakat dengan slogan tersebut.

Sudah cukup banyak contoh yang bisa mendukung mengenai teori tersebut. Salah satu yang paling terkenal mungkin adalah pertandingan final UEFA Champions League 2005 yang mempertemukan Liverpool dengan AC Milan. Di babak I Milan unggul 3-0 dan ketika peluit tanda babak pertama berakhir dibunyikan pemenang pertandingan seperti telah ditetapkan yaitu si tim asal Italia. Memasuki babak kedua Liverpool ternyata belum menyerah, mereka menggempur habis-habisan pertahanan “si merah hitam”. Hasilnya skipper mereka Steven Gerrard mencetak gol pertama untuk klub Merseyside. Liverpool mendapat momentum untuk melakukan comeback dan hasilnya seperti kita ketahui sampai saat ini, Liverpool menang secara dramatis lewat adu penalti.

Contoh berikutnya adalah tim nasional Italia. Musim panas menjelang putaran final Piala Dunia di Jerman, Serie A diguncang skandal pengaturan wasit yang sampai sekarang kita kenal dengan nama calciopoli. Dunia persepakbolaan sempat gempar waktu itu dan Italia menjadi sorotan utama. Menjelang dimulainya turnamen Italia diragukan bisa melangkah jauh atau sekadar bermain bagus, sebabnya persiapan tim sangat terganggu oleh kasus tersebut. Namun, hasilnya di luar dugaan, seakan mendapat momentum Italia justru tampil hebat untuk membuktikan pada dunia bahwa persepakbolaan mereka belum habis. Mereka keluar sebagai juara di akhir turnamen.

Hampir 7 tahun kemudian, Indonesia juga berpeluang mencatat sebuah kegemilangan memanfaatkna momentum tersendiri. Indonesia dijadwalkan menjamu Arab Saudi tanggal 24 Maret dalam lanjutan pra Piala Asia 2015. Pertandingan kali ini memang istimewa, sebabnya adalah perseteruan di tubuh PSSI sudah terselesaikan. Timnas diperkuat pemain-pemain terbaik, dilatih oleh dua pelatih yang sangat berpengalaman dan bermain didepan 75 ribu pendukung fanatik. Semua kondisi seperti sudah memang disiapkan untuk Indonesia bisa meraih kemenangan perdana atas Arab Saudi. Dan ketika momentum itu sudah ada di depan mata, sayangnya sekali lagi kita kalah.

Pemain dan pelatih jelas tidak bisa disalahkan, mereka sudah berbuat semaksimal mungkin yang mereka bisa. Kita juga wajib mengakui Arab Saudi memang bermain lebih baik dan memang kualitas tekniknya di atas para pemain timnas. Peringkat FIFA juga memang sudah menggambarkan perbedaan kekuatan antara kedua tim, Indonesia di peringkat 166 sedangkan Arab Saudi di peringkat 106. Diperparah lagi persiapan timnas kurang dari seminggu sebelum pertandingan.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari pertandingan kemarin. Kita diajarkan bahwa untuk mencapai kesuksesan ada proses yang harus dilewati. Tidak mungkin hanya dengan mengumpulkan pemain-pemain terbaik lantas kita bisa langsung menang mudah dari tim yang di atas kertas lebih diunggulkan. Jika demikian maka kita tidak usah menunggu lama untuk sekadar memenangi piala AFF bukan? Sekali lagi semuanya butuh proses, berikan tim nasional waktu untuk bisa mematangkan kerjasama dan taktik lalu adakan banyak ujicoba internasional. Beberapa bulan lagi ada beberapa tim top eropa yang berencana mengunjungi Indonesia – Arsenal, Liverpool, Chelsea – jika perlu tandingkan saja timnas melawan tim-tim tersebut. Tujuannya bukan untuk kemenangan tetapi lebih untuk mendapatkan pembelajaran untuk proses mematangkan timnas.

Yang terakhir tentu saja dari organisasi PSSI harus mendukung tim nasional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa PSSI kinerjanya sangat tidak profesional dalam mengurusi timnas. Jika ini tidak berubah maka sampai kapanpun timnas tidak akan bisa berjaya. Mau sampai kapan lagi rakyat Indonesia dibuat kecewa oleh induk olahraga yang satu ini?

Saya dan mungkin jutaan penduduk Indonesia lainnya sepenuhnya percaya bahwa akan ada momentum lain yang menunggu Indonesia di depan sana. Menunggu Sang Garuda mengepakkan sayap terbang tinggi menuju prestasi. Masalahnya sampai kapan kita mau terus melewatkan momentum tersebut?

Sekian.

===================================================

Penulis adalah pengamat sepakbola amatir, beredar di dunia twitter dengan nama akun @nikopurba