“Bung, kira-kira Indonesia bisa menang ngga malam ini?”, adik saya bertanya.
“Ngga mungkin, bung. Indonesia ngga mungkin menang, beda levelnya terlalu jauh”, jawabku.
“Ah, pasti masih ada kemungkinan menang, lihat saja nanti”, balasnya, dengan yakin.
Begitulah sepenggal percapakan antara saya dengan adik saya beberapa waktu yang lalu terkait pertandingan tim bayangan Indonesia (yang dinamai Indonesia Dream Team) melawan Arsenal. Tidak hanya sekali percakapan tersebut, tapi sampai diulang tiga kali, termasuk sebelum melawan Liverpool dan Chelsea beberapa waktu kemudian. Apa mau dikata, timnas kalah, jangankan memberi perlawanan, timnas kita terlihat seperti pemain yang baru kemarin belajar main bola. Perbedaan kemampuannya terlalu jauh, baik dari segi skill individu, stamina maupun kemampuan taktikal.
Salah besar kalau kita menyalahkan para pemain yang turun di lapangan untuk kekalahan telak yang diterima tersebut. Jangan lupa, pemain-pemain yang diturunkan di ketiga pertandingan tersebut bisa dikatakan sebagai pemain-pemain terbaik di liga sepakbola tanah air. Kalaupun perbedaan kemampuan terlihat begitu jauh, itu memang murni dikarenakan pemain lawan memang terlalu tangguh dan terbiasa berkompetisi di level yang jauh lebih tinggi dan lebih ketat. Di sisi lain, pemain yang dipanggil untuk melawan tim-tim tersebut baru berlatih bersama dalam waktu yang sangat sedikit.

Alasan-alasan seperti menimba ilmu, menambah pengalaman dan memetik pelajaran dari tim-tim top tersebut terdengar sangat klise. Dimana ada ceritanya, satu tim main di satu dua pertandingan dan tiba-tiba bisa menjadi tim yang jauh lebih baik? Tidak ada! Progres atau perkembangan hanya bisa didapat melalui persiapan yang matang dan latihan keras secara terus-menerus. Jadi, memang harus kita akui pertandingan-pertandingan kemarin tidak lebih hanya sekadar dari hiburan dan pemuas dahaga bagi para fans yang timnya datang berkunjung.
Sebenarnya apa yang salah dari sepakbola kita?
Ini pertanyaan yang klasik. Sangat klasik. Ditambah lagi dengan satu pertanyaan pamungkas, “Apa ngga ada 11 orang dari 200 juta penduduk Indonesia yang bisa bersaing di level sepakbola dunia?”. Jika pertanyaan ini ditanyakan pada saya, maka saya akan menjawab “pasti ada” untuk pertanyaan kedua. Dan untuk pertanyaan pertama, sekali lagi saya harus tegaskan jawaban saya, kesalahan bukan terletak pada pemain (saja), kesalahan yang terjadi sudah sangat sistemik, mulai dari pembinaan pemain, perencanaan sepakbola dan federasi sepakbolanya sendiri.
Saya ingat sekali bahwa negeri ini mempunyai bakat-bakat muda yang sangat berlimpah. Pada masa saya SMP dan masih sering baca tabloid olahraga, saya banyak membaca tim muda Indonesia banyak menuai prestasi. Tahun 2005, Indonesia mampu tampil sangat baik di kompetisi dunia usia di bawah 12 tahun, Danone Cup. Saya bahkan ingat waktu itu Indonesia meraih gelar best attack team dengan strikernya, Irvin Museng menjadi topskorer. Cerita bahkan berlanjut dengan Irvin dipanggil untuk berlatih dengan tim junior Ajax Amsterdam. Di tahun berikutnya, tim muda kita bahkan sanggup merengkuh peringkat 4 dari 32 negara peserta! Bahkan mengungguli tim-tim yang kuat prestasi sepakbolanya seperti Italia, Belanda, Jerman dll. Belum lagi beberapa waktu berikutnya ada tim muda yang terdiri dari pemain-pemain berbakat, termasuk Syamsir Alam, yang dikirim berlatih ke Uruguay. Jadi jelaslah, negeri ini tidak kekurangan talenta berbakat.
Contoh-contoh sebelumnya sudah sangat jelas memperlihatkan bahwa untuk kelompok usia anak-anak sampai remaja, talenta-talenta dari Indonesia masih sanggup mengimbangi (jika tidak mau jumawa menyebut ‘unggul’) dari negara-negara lain di dunia ini. Namun, ketika beranjak dewasa kemudian pemain-pemain di turnamen tersebut dipertandingkan lagi, saya berani jamin tim dari Indonesia tidak akan jauh-jauh dari posisi juru kunci. Sekali lagi, yang salah bukan para pemain. Kurangnya pembinaan yang bagus merupakan alasan utama dari jebloknya prestasi.
Saya sangat sepakat dengan poin-poin yang dipaparkan bung Zen Rs dalam tulisan berjudul Agar Sepakbola Indonesia Tak Mati di Lumbung Sendiri. Untuk memperbaiki sepakbola yang sudah terlanjur berantakan di negeri ini, kita butuh federasi yang kuat. Jangan lagi isi berita olahraga seputar perkelahian antar oknum anggota federasi, tapi sudah seharusnya tentang rencana-rencana dan langkah konkret untuk memajukan sepakbola, baik dari segi olahraga maupun bisnis.
Kita butuh orang-orang yang mengerti dan paham mengelola sepakbola. Langkah untuk mengirimkan jajaran pelatih muda, direktur teknis, fisioterapis dan nutrisionis untuk magang ke klub-klub top tersebut sepertinya terdengar lebih berguna daripada sekadar pertandingan persahabatan. Bayangkan apabila mereka yang dikirimkan ini nantinya dapat belajar banyak di Eropa sana kemudian kembali ke Indonesia dan membuat suatu sistem yang baik untuk sepakbola negeri ini. Pasti akan membuahkan hasil, minimal ada pembaharuan dalam pengelolaan sepakbola kita. Kenapa tidak pemain saja yang dikirim berlatih ke luar? Ini namanya mengulang kesalahan yang sama. Kita sudah pernah melakukan program serupa, yang pertama di tahun 90an yang dikenal dengan nama program primavera ke Italia, disusul tahun 2007 tim SAD Indonesia ke Uruguay. Hasilnya nihil.
Sudah saatnya sepakbola kita berbenah. Jika tidak, mungkin 10 atau bahkan 20 tahun lagi kita hanya dikenal sebagai negara dengan fans sepakbola yang fanatik. Negara yang menjadi tujuan klub-klub top eropa meraup uang banyak, tanpa pernah dikenang prestasi negaranya di kancah persepakbolaan dunia.
npp.