Siap bertualang ke negeri seberang.
For the sake of Suikoden, awalnya saya juga ngga tahu buat apa saya bikin paspor.
Alkisah di suatu sore yang tenang, saya sedang duduk di halaman belakang rumah saya sambil baca-baca koran dan tiba-tiba mama saya datang menghampiri. Sambil membuat teh, beliau kemudian berkata, “Niko, kayaknya kau harus bikin paspor, penting itu. Mama sama Bapak udah bikin kemarin”. Sedetik kemudian, yang terlintas di pikiran saya adalah ruwetnya tata cara pembuatan paspor. Seakan tahu apa yang ada di pikiran saya, mama saya langsung menyambar, “Gampang kok, tinggal datang isi formulir, bayar, foto, wawancara, udah jadi”. Hebat, saya sedang berbicara dengan telepath tampaknya.
My mom’s word is my command.
Jadi, keesokan harinya saya pun pergi ke kantor imigrasi yang terletak di pinggir kota Siantar. When I say ‘pinggir’, it is really ‘pinggir’. Ajaib, tanpa banyak ba-bi-bu dan antri sana sini seperti yang dikisahkan teman-teman saya yang membuat paspor di Bandung, saya bisa langsung ambil formulir. Kesimpulan yang saya bisa ambil, orang Siantar yang mau ke luar negeri jauh lebih sedikit dari yang ada di Bandung.
Tidak banyak kejadian yang sebenarnya bisa diceritakan, tata cara pembuatan paspor persis seperti yang di-spoiler oleh mama saya. Hal yang perlu diperhatikan sebaiknya lengkapi persyaratan sebelum datang ke kantor imigrasi. Fotokopi KTP, Kartu keluarga dan ijazah/akte kelahiran harus lengkap dibawa. Untuk dokumen terakhir kemarin saya tidak membawanya karena saya sudah cukup percaya diri KTP dan Kartu Keluarga sudah menunjukkan identitas saya. Ayolah, saya bukan teroris. Tapi ternyata tidak, petugas kantor imigrasi menolak untuk melayani saya. Saya sudah coba bujuk untuk menyertakan fotokopi ijazah belakangan, tapi tetap ditolak. Untuk kali ini saya harus akui, petugas kantor imigrasinya sangat berintegritas dan tegas.
Saya pulang, mengambil ijazah terakhir saya, ke fotokopian dan setengah jam kemudian muncul lagi di kantor imigrasi. Si petugas tadi kembali menjadi orang yang menyambut saya di loket pelayanan, kemudian saya menyerahkan fotokopi ijazah saya. Dia memperhatikan fotokopi ijazah saya sebentar, beberapa saat kemudian memanggil beberapa temannya dan menunjukkan ijazah saya, mereka tampak antusias. Dari pembicaraan mereka tampaknya mereka baru kali ini melihat ijazah yang ada tulisan ‘Institut Teknologi Bandung’ di bagian atasnya. Otomatis, saya agak sedikit bangga tapi tetap membumi. Setelah itu saya pun dilayani dengan sangat baik dalam pembuatan paspor.
Tidak butuh waktu lama, tiga hari kemudian paspor saya jadi. Saya datang, melapor ke loket dan tinggal ambil paspor. Sebelum saya pergi, si Ibu petugas sempat bertanya-tanya beberapa hal. ‘Kapan kamu berangkat?”, tanya si Ibu. Saya agak bingung. Kemudian saya berusaha menguasai keadaan dan mengerti apa yang ditanyakan Ibu tersebut. “Oh, ke luar negeri nya ya bu?”, balas saya. “Masih lama bu, saya sendiri belum tau kapan”, jawab saya lagi. “Mau ke Eropa, kan?”, tanyanya lagi memastikan. “Iya, Bu”, balas saya singkat. “Oke, Niko, semoga sukses ya”, katanya menutup pembicaraan dengan senyum tulus. Kemudian kami pun berjabat tangan dan saya berlalu meninggalkan kantor imigrasi. Tak lupa saya memasukkan tanda Sangat Puas ke dalam kotak masukan di depan kantornya.
Ketika sesi wawancara dan ditanyakan alasan pembuatan paspor, saya juga ngga tahu kenapa bisa menjawab mau melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Padahal ada seratus alasan bagus lain yang bisa disebutkan, contohnya mau ke Brazil tahun depan nonton Piala Dunia. Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu.
Kata orang sih, ucapan itu adalah doa. Semoga saja.


