Sepakbola dan Momentum

” … dan ketika momentum itu sudah ada di depan mata, sayangnya sekali lagi kita kalah.”

Sepakbola adalah soal momentum.

Begitu kira-kira slogan yang diutarakan salah satu program berita olahraga di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Untuk kali ini saya harus sepakat dengan slogan tersebut.

Sudah cukup banyak contoh yang bisa mendukung mengenai teori tersebut. Salah satu yang paling terkenal mungkin adalah pertandingan final UEFA Champions League 2005 yang mempertemukan Liverpool dengan AC Milan. Di babak I Milan unggul 3-0 dan ketika peluit tanda babak pertama berakhir dibunyikan pemenang pertandingan seperti telah ditetapkan yaitu si tim asal Italia. Memasuki babak kedua Liverpool ternyata belum menyerah, mereka menggempur habis-habisan pertahanan “si merah hitam”. Hasilnya skipper mereka Steven Gerrard mencetak gol pertama untuk klub Merseyside. Liverpool mendapat momentum untuk melakukan comeback dan hasilnya seperti kita ketahui sampai saat ini, Liverpool menang secara dramatis lewat adu penalti.

Contoh berikutnya adalah tim nasional Italia. Musim panas menjelang putaran final Piala Dunia di Jerman, Serie A diguncang skandal pengaturan wasit yang sampai sekarang kita kenal dengan nama calciopoli. Dunia persepakbolaan sempat gempar waktu itu dan Italia menjadi sorotan utama. Menjelang dimulainya turnamen Italia diragukan bisa melangkah jauh atau sekadar bermain bagus, sebabnya persiapan tim sangat terganggu oleh kasus tersebut. Namun, hasilnya di luar dugaan, seakan mendapat momentum Italia justru tampil hebat untuk membuktikan pada dunia bahwa persepakbolaan mereka belum habis. Mereka keluar sebagai juara di akhir turnamen.

Hampir 7 tahun kemudian, Indonesia juga berpeluang mencatat sebuah kegemilangan memanfaatkna momentum tersendiri. Indonesia dijadwalkan menjamu Arab Saudi tanggal 24 Maret dalam lanjutan pra Piala Asia 2015. Pertandingan kali ini memang istimewa, sebabnya adalah perseteruan di tubuh PSSI sudah terselesaikan. Timnas diperkuat pemain-pemain terbaik, dilatih oleh dua pelatih yang sangat berpengalaman dan bermain didepan 75 ribu pendukung fanatik. Semua kondisi seperti sudah memang disiapkan untuk Indonesia bisa meraih kemenangan perdana atas Arab Saudi. Dan ketika momentum itu sudah ada di depan mata, sayangnya sekali lagi kita kalah.

Pemain dan pelatih jelas tidak bisa disalahkan, mereka sudah berbuat semaksimal mungkin yang mereka bisa. Kita juga wajib mengakui Arab Saudi memang bermain lebih baik dan memang kualitas tekniknya di atas para pemain timnas. Peringkat FIFA juga memang sudah menggambarkan perbedaan kekuatan antara kedua tim, Indonesia di peringkat 166 sedangkan Arab Saudi di peringkat 106. Diperparah lagi persiapan timnas kurang dari seminggu sebelum pertandingan.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari pertandingan kemarin. Kita diajarkan bahwa untuk mencapai kesuksesan ada proses yang harus dilewati. Tidak mungkin hanya dengan mengumpulkan pemain-pemain terbaik lantas kita bisa langsung menang mudah dari tim yang di atas kertas lebih diunggulkan. Jika demikian maka kita tidak usah menunggu lama untuk sekadar memenangi piala AFF bukan? Sekali lagi semuanya butuh proses, berikan tim nasional waktu untuk bisa mematangkan kerjasama dan taktik lalu adakan banyak ujicoba internasional. Beberapa bulan lagi ada beberapa tim top eropa yang berencana mengunjungi Indonesia – Arsenal, Liverpool, Chelsea – jika perlu tandingkan saja timnas melawan tim-tim tersebut. Tujuannya bukan untuk kemenangan tetapi lebih untuk mendapatkan pembelajaran untuk proses mematangkan timnas.

Yang terakhir tentu saja dari organisasi PSSI harus mendukung tim nasional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa PSSI kinerjanya sangat tidak profesional dalam mengurusi timnas. Jika ini tidak berubah maka sampai kapanpun timnas tidak akan bisa berjaya. Mau sampai kapan lagi rakyat Indonesia dibuat kecewa oleh induk olahraga yang satu ini?

Saya dan mungkin jutaan penduduk Indonesia lainnya sepenuhnya percaya bahwa akan ada momentum lain yang menunggu Indonesia di depan sana. Menunggu Sang Garuda mengepakkan sayap terbang tinggi menuju prestasi. Masalahnya sampai kapan kita mau terus melewatkan momentum tersebut?

Sekian.

===================================================

Penulis adalah pengamat sepakbola amatir, beredar di dunia twitter dengan nama akun @nikopurba