Simplicity is the ultimate sophistication.
Kutipan Leonardo Da Vinci di atas yang kini sering dikutip oleh raksasa teknologi Apple benar-benar banyak menginspirasi saya belakangan ini. Saya tidak tahu apakah memang sudah natur manusia untuk menyukai hal-hal rumit tapi memang begitulah kenyataan yang sering kita dapati. Semakin rumit suatu hal kesannya keren, hebat, dahsyat dan sebagainya. Memperumit suatu hal atau permasalahan adalah hal yang paling mudah dilakukan, tetapi menyederhanakan masalah tersebut itu baru namanya tantangan, demikian bunyi salah satu pepatah.
Berangkat dari masalah tersebut, iseng-iseng saya membuka halaman blog saya dan saya mendapati bahwa tampilan muka halaman tersebut jauh dari kesan yang menunjukkan simplicity. Terlalu ramai, banyak widget yang kurang perlu, sedikit informasi dan hampir tidak ada space kosong. Melihatnya membuat saya teringat gudang di rumah saya. Coba lihat screenshot di bawah ini

Saya beruntung mempunyai teman unik tapi asik dan berisik bernama Okihita. Well, dia yang mengajarkan secara tidak langsung pada saya bahwa space kosong merupakan bagian dari desain dan menambahkan kesan simpel dan tidak kacau. Setelah 15 menit mengutak-atik beberapa bagian maka saya mengubah tampilan muka blog saya menjadi

Terlihat lebih baik bukan?
Tapi tunggu dulu, widget goodreads di kanan bawah itu agak mengganggu. Lagipula, saya bukan orang yang cukup rajin membaca buku dan mengupdate daftar goodreads. Maka, solusinya hilangkan saja widget tersebut. Simpel bukan? 😀

Saya cukup puas dengan hasil akhir dari tampilan blog ini, benar-benar simpel. 😀
Mudah-mudahan simplicity tersebut tidak hanya bisa saya terapkan pada blog namun juga dalam seluruh aspek kehidupan mulai dari pola pikir, gaya hidup dan sebagainya, itu harapan saya ke depannya. Sekian postingan tidak penting ini saya buat.
Salam